Showing posts with label Personal. Show all posts
Showing posts with label Personal. Show all posts

Sunday, October 7, 2018

Tidak terasa sudah setahun aku berada di lingkungan ini, lingkungan yang sangat menyenangkan sampai-sampai keseringan aku lupa bahkan tidak ingin pulang ke rumah. Jangankan pulang, meninggalkan tempat ini sebentar untuk asistensi tugas akhir saja aku sangat enggan. Aku pasti akan mencari dan menemukan alasan sekecil apapun supaya bisa tetap datang.

Semuanya terasa begitu nyaman.

Sangkin nyamannya, sampai jadi sesusah itu memutuskan untuk berhenti.

Ya, benar. Bulan lalu aku mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.
Jangan tanya seberapa susahnya untuk mengucapkan kata selesai.
Jangan tanya seberapa banyak tissue yang setiap malamnya kuhabiskan.
Jangan tanya seberapa besar godaan untuk kembali lagi kesana.

Namun aku harus paham, terkadang lingkungan yang kita suka bisa jadi tidak membuat kita berkembang.

Walaupun demikian, melalui tempat ini, aku menemukan orang-orang yang sangat berharga. Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada mereka yang telah membantuku untuk merasa hidup kembali.


Perempuan yang memakai celana pink di atas ialah orang pertama yang ngewawancarai aku di dunia kerja. Beliau adalah atasan yang sangat perhatian tapi juga cerewet. Tapi cerewetnya ini yang bikin kangen. :') Aku agak ngerasa bersalah sama Bu Riana karna aku lumayan sering engga bisa jadi pendengar curhat yang baik. Kadang kalo Ibu mulai curhat, aku cuma bales "Baik, Bu." doang. Kalo ga bales itu, bukannya nyemangatin tapi justru ngasih pandangan yang beda. Atau kalo sama sekali ga ngerti sama curhatan beliau, responku adalah "Saya tidak tahu harus bilang apa, Bu." Monmaap ya, Buk. Wqwq.

Tapi yang paling ga bisa aku lupain dari Bu Riana ialah ketika penilaian buat magang. Untuk mahasiswa yang sebelumnya nyaris dikeluarin dari kampus tapi bisa dapat nilai segitu dari kementerian rasanya... wah. Dengan sifat dan sikap yang sama persis namun hasil yang didapat berbanding terbalik. Dari skala 1-10, Bu Riana ngasih nilai paling tinggi 10 dan paling rendah 9,9. Terima kasih, Bu. :')



Senior desainer yang kesan pertama pas kenalan paling bagus, yang kaya beneran ngerangkul siapapun ga peduli tingkatan (Yang belakangan aku baru tau kalo di dunia desain produk, beliau kaya udah sepuh). Apalagi beliau kalo ngejelasin itu mudah dimengerti dan humornya juga enak. Pokonya Pak Harry ini salah satu yang paling favorit. Walaupun sempat slek dikit dan bikin aku ngerasa bersalah (sampai terakhir pas perpisahan tetap kepikiran dan akhirnya minta maaf lagi. hiks), tapi alhamdulillah Pak Harry tetap selow dan santai. Pak Harry terbaik!



Setelah pindah dari kampus pertama, aku lumayan takut dan sangat menghindari untuk punya teman baru. Bahkan di kampus baru, cuma satu orang yang beneran sering ngomong aku. Tapi ternyata di tempat ini aku ketemu orang-orang yang otaknya konslet naujubilah, alhasil mulai luluh. Aku ga bakal lupa kalo setelah lebih dari dua tahun, ini beneran pertama kali aku ketawa selepas itu. Padahal cuma sereceh ini, main kursi. Tapi bener-bener semenyenangkan itu.


Terima kasih banyak ya, Putri, Ghina, Okta, Wicky, Laras, dan Padli. Kalian ga tau seberapa bersyukur dan beruntungnya aku pernah kenal kalian. Kalian berhasil bikin kekampretanku muncul lagi. Kalian berhasil bikin suaraku besar lagi. Kalian berhasil mengingatkanku kalo punya teman ternyata ga seburuk itu juga.



Sebelum Bu Riana, ada satu orang kepercayaan beliau untuk ngurusin segala hal. Intinya kaya senior atau atasanku juga, sih. Walaupun baru kenal bentar tapi asli dia orang yang paling banyak dan sering cakap kotor -__-, entah uda apa aja yang dibilangnya ke aku. Segala macam caci maki kayanya uda tamat. Jewer, sentil, jitak, mukul, ngelempar barang atau apapun itu juga uda ga kehitung berapa kali aku digituin. Dan anehnya itu cuma sama aku T.T. Oleh karena itu ga sekali atau dua kali sebenarnya aku lumayan meragukan kewarasan Kak Wisnu :')

Tapi berhubung dia termasuk orang yang gigih dalam hal pekerjaan, mau ga mau pasti itu bikin aku hormat. Kalo dipikir-pikir juga cuma dia yang bisa bikin aku takut. Lumayan ingat kalo Putri sama Ghina mau ngisengin atau ngaduin aku pasti kalimat mereka ga jauh dari "Kak Wisnuuu, Dila nih Kaaak." "Gua bilang ke Kak Wisnu ya lu." -___-

Terima kasih banyak untuk semuanya, Kak Wisnu. May Allah always guide you to be good, be safe, and be strong.


----


Sebuah tempat yang merupakan langkah pertamanya di dunia kerja ini membuatnya sadar dan kembali bersyukur akan banyak hal. Perlahan tapi pasti dia mulai menemukan semangatnya, hingga akhirnya dia tersadar bahwa api itu masih ada. Sama sekali belum padam.

Saturday, January 6, 2018

Ada ratusan hari yang ada dalam setahun, tapi sejak dulu tanggal ini termasuk salah satu hari yang paling aku takutkan. Takut karna aku belum bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Berkali-kali setiap tanggal ini tiba, pasti ketakutan itu akan muncul.

Kecuali hari ini.
Daripada merasa takut, hari ini aku sungguh ingin melakukan satu hal, yaitu berterimakasih.

Berterimakasih kepada Allah karna masih memberikanku kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Dan berterima kasih kepada diri sendiri,
Dari sekian banyak hal menyedihkan, memalukan, maupun menyakitkan,
Terima kasih telah memilih untuk bertahan hidup.

Terima kasih, Fadhila Anthony.

Saturday, May 20, 2017

From: The girl who was once happy
To: All of you who were once my friends

I used to be so happy
I'd smile as bright as the sun
I'd laugh as much as I can
Nothing but sunshine
Hopeful as a child
Happy as a clam

Somewhere along the line, everything changed

I was fighting with this grey cloud called depression
And this lightning called anxiety
Having depression and anxiety is like worrying about every single thing
But you're too sad and tired to care
Waking up everyday was a struggle

I knew that I needed help
I started open up to my friends
But none of them understand
"Stop being so depressed"
"You have no reason to feel this way"
"Other people have it worse than you"
"Is it that hard? Are you sure you're not faking this for simpathy?"

I didn't know what to do
I was drowning in the sea and everybody was watching
But no one would grab me by the hand
I started isolating myself from everyone
I kept all those emotions to myself

Friend, I'm sorry I never showed up to your meet ups
I'm sorry you had to keep up with me
I'm sorry I was never there for all of you
I needed some time for myself
But please, try to understand

I'm not the same as I used to be
And I don't know how to feel about it

- Tata

Saturday, May 13, 2017

Wah sudah lama sekali tidak menulis di sini.
Sangkin lamanya aku bingung mau mulai dari mana.
Singkatnya, sekarang aku uda pindah kampus. Tempat yang jauh lebih manusiawi. 
Bisa dibilang ini adalah salah satu keputusan paling benar yang pernah aku buat. Hehe.
Mungkin di post selanjutnya (entah kapan) (tapi akan) bakal aku jelasin lebih detail tentang kampus yang baru ini. 
Tapi engga sekarang.
Karna sekarang aku lagi pengen cerita tentang salah satu orang yang paling aku sayang dan hormati, 
Basuki Tjahaja Purnama.

Aku ingat sebelum ngetweet itu perlu waktu cukup lama buat baca artikel atau berita yang ga kehitung lagi jumlahnya dan puluhan video yang aku liat buat mikir kalo Pak Ahok itu keren. Aku ingat semakin aku nyari tau, semakin itu juga harapan dan semangatku muncul. Bapak ini seakan menjadi sosok pemimpin yang aku rindukan, sosok yang selama ini selalu cuma bisa aku dapat dari bacaan cerita sejarah atau khayalan yang ada. Dan ketika Bapak hadir dalam kehidupan nyata, rasanya susah dijelaskan. Sebahagia itu.

Waktu itu walaupun masih jadi warga Medan yang tinggal di Bandung, aku ga pernah absen ngikutin berita tentang beliau. Aku beneran ikut senang ketika melihat Jakarta semakin maju, seperti ngasih bukti kalo Pak Ahok bukan cuma asal ngomong atau marah tapi punya alasan yang masuk akal dan itu semua dia lakukan untuk warganya tercinta. Gaya bicaranya yang sering dianggap tidak santun justru membuatku semakin menghormatinya, karna Bapak mengeluarkan sisi itu ketika berhadapan dengan oknum tertentu.

Karna satu dan lain hal, tahun lalu aku memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Ketika itu bisa dibilang kondisiku tidak terlalu baik, tapi ada hal yang mungkin menurut orang lain sepele sekali namun bagiku pikiran ini cukup bisa menghiburku. "Semangat, Dil! Kau sekarang sedang berada di provinsi yang sama dengan Pak Ahok, lho!" "Semangat, Dil! Sekarang di KTP-mu pun sudah ada tulisan Jakarta!"

Singkat cerita, pilkada sebentar lagi. Dengan kinerjanya, tidak heran banyak yang berharap Pak Ahok akan menjadi gubernur lagi. Termasuk aku. Namun sayangnya seiring berjalannya waktu, Pak Ahok terkena kasus tentang penistaan agama. Agama yang selama ini aku cintai dan yakini lebih dari apapun, Islam. Awalnya aku tidak percaya beliau ada niat untuk menistakan Islam, pun akhirnya setelah aku lebih mencari tau data dan fakta yang ada, aku tetap tidak percaya bahwa beliau seperti itu. Saat itu aku berpikir isu ini akan reda dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah. Tapi ternyata aku salah. Isu ini seperti api yang semakin lama semakin membakar semua yang tersentuh olehnya.

Walaupun aku yakin isu ini semakin besar, aku tetap menenangkan diriku kalo ini tidak 'sebesar' itu. Aku yakin masih banyak orang yang tidak mau Pak Ahok jatuh, apalagi warga Jakarta yang telah banyak menikmati langsung kinerja dan rasa sayang dari beliau. Sampai akhirnya karna isu tersebut anggota keluargaku sendiri meragukan beliau, disitu aku sadar bahwa sekali lagi aku salah. Salah besar.

Kesalahan ini membuatku untuk beberapa saat merenung. Benar-benar merenung. Apakah aku salah? Apakah benar imanku ternyata sedangkal seperti yang mereka katakan itu? Apakah aku tidak peduli dengan Islam? Apakah aku akan masuk neraka seperti sumpah serapah mereka? Perlahan aku mulai sedikit goyah. Aku rasa ini adalah saat yang paling tepat untuk memohon petunjuk dari Sang Pencipta. Ketika itu sebenarnya aku merasa sangat takut bila Sang Pencipta mengira bahwa aku lebih mementingkan Pak Ahok di atas segalanya, namun tiba-tiba aku tersadar sendiri, Dia lah yang paling mengerti dan tau isi hati hamba-Nya. Seharusnya bila aku yakin dengan alasanku, aku tidak perlu berprasangka buruk, apalagi dengan Sang Pencipta. Meskipun setelah itu mataku bengkak, hatiku kembali tenang. Alhamdulillah. Aku semakin yakin untuk tetap percaya dengan Pak Ahok.

... Tapi mungkin sudah takdirnya, Pak Ahok kalah di putaran kedua. Pun seakan belum cukup, beberapa hari yang lalu Pak Ahok divonis 2 tahun penjara karna kasus penistaan agama. Aku lupa kapan terakhir kali sepatah hati itu, dan aku tidak sendirian yang seperti ini. Banyak yang jauh lebih sedih dan mulai melakukan beberapa hal, seperti mulai aktif memberikan pendapat, membuat aksi solidaritas dengan lilin, protes dan sebagainya dalam bentuk yang nyata. Melihat respon yang beragam seperti itu aku tidak bisa sepenuhnya mendukung atau menyalahkan, yang pasti aku bersyukur karna masih banyak yang peduli dengan Pak Ahok. Aku tidak memilih protes karna walaupun sesayang itu dengan beliau, aku harus tetap menghormati keputusan hakim dan hukum yang berlaku. Meski demikian, aku tidak akan mecoba menipu dan menenangkan diriku lagi. Aku akan mencari cara lain untuk bersama-sama mendukung politik akal sehat, dan cara itu telah aku temukan.

Credit to @hariadhi

Thursday, February 25, 2016


Senang melihat mereka bisa lebih baik dalam menjalankan program kerja himpunan.
Baik-baik ya adek-adek.
Yang akur ya semua.

Walaupun tidak bisa banyak membantu seperti dulu lagi bukan berarti lepas tangan dan sama sekali tidak peduli.

Semangat, KMDI.

...


Dari SMA sampai beberapa bulan sebelum ini, aku terlalu fokus di organisasi.
Fokus dan menggebu-gebu lebih tepatnya.

Ketika melihat sekitar, tiba-tiba aku tersadar...

Seumuranku sudah ada yang bekerja,
Seumuranku sudah ada yang lulus kuliah,
Seumuranku sudah ada yang belajar di luar negeri,
Seumuranku sudah ada yang menikah atau malah punya anak.

Membuat tersentil,

Hal yang aku lakukan selama ini apakah benar-benar seberharga itu untuk diperjuangkan?

Mungkin sudah saatnya aku beristirahat sejenak.
Beristirahat untuk memikirkan apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidupku.
Beristirahat untuk menghargai apa yang telah dan tidak aku punya.
Beristirahat untuk kemudian dapat mengambil keputusan yang lebih tepat.

Aku akan mencoba lebih fokus untuk menata masa depan.

Bila dipikirkan dan dibandingkan dengan sebelumnya,

Tidak sedikit yang mempertanyakan belakangan ini aku kemana saja dan mengira bahwa 'istirahat' ku ini adalah bentuk penyesalan.
Sebenarnya tidak demikian, tapi apalah gunanya menjelaskan kepada mereka yang bahkan tidak akan peduli untuk sekedar mendengar. Biarlah.

...

Singkatnya, kalimat dari R.A. Kartini inilah yang menggambarkan alasan dibalik keputusanku:

"Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain."

Sunday, November 22, 2015

"Ini yg kedua kalinya lho wak segede dan separah ini...."

Hah.
Benar juga apa yg dia bilang.

Tapi dari sini aku dapat ilmu yg hebat.
Bisa belajar untuk lebih berpikir masuk akal.
Bisa belajar untuk paham kalo rasa sayang juga bisa jadi racun yg sangat berbahaya.
Bisa belajar untuk terkadang ada saatnya lebih baik mengutamakan diri sendiri daripada orang lain.
Bisa belajar untuk tau kapan waktu yg tepat ketika harus memilih memendam atau meredam.
Bisa belajar untuk mengerti apa itu prioritas.
Dan bisa belajar untuk tidak mungkin hanya benar-benar peduli dengan orang yg lebih muda saja, tapi juga harus menghormati yg lebih tua. (Walaupun dia sungguh amat tidak masuk akal, dia emang lebih tua. Give some respect dil. Usahain.)

Intinya banyak dapat ilmu, sih.

Terlepas dari itu,
Ga mengubah fakta kalo kita pernah sama-sama berjuang untuk satu tujuan.

Atas tenaga, pikiran, dan waktu yg telah kalian semua berikan untuk kepanitiaan ini,
Saya ucapkan terima kasih banyak.

Saturday, May 2, 2015

"... ternyata apa yang dikatakan orang lain tentang kamu itu benar."

Sudah hampir mencapai titik lelah untuk ingin membela diri. Jika mereka selalu mengatakan hal yang negatif tentangku, lalu ketika aku melakukan satu kesalahan dan ternyata akhirnya itu membuat kalian membenarkan apa yang dikatakan orang-orang itu, silahkan.

Walaupun rasanya masih ingin teriak sekencang mungkin, aku tidak akan memberikan alasan ataupun penjelasan apapun lagi.

Kalian berterimakasih atas pelajaran yang telah aku berikan, seakan aku adalah sebuah kesalahan besar yang berada di hidup kalian.

Tak apa.

Kali ini aku juga dapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu adalah untuk lebih menghargai diriku sendiri. Ketika orang lain tidak peduli, aku harus peduli dengan diriku sendiri. Ketika orang lain hanya ingin menjatuhkan, aku harus bisa membangkitkan diriku sendiri. Ketika orang lain tidak percaya dengan apa yang aku katakan, biarkan.

Monday, March 2, 2015



Paling engga bisa kalo uda pake kata 'keluarga'.
Duh... semoga kesan pertama sama ketua bem yang baru ini ga sama kaya yang lain. Kusudah lelah tertipu dikarenakan kesan pertama. Semoga kami tidak warm warm chicken shit. Semoga sampai akhir kami jadi makin solid.

Btw dari sejak SD ga pernah ikutan di bagian Janji Siswa, karna ngerasa agak berat aja gitu sama kata "janji" jadi ga mau ngucapin seenteng itu. Makanya... pas bagian sumpah tadi aku ga ikutan ngomong. :))
Tapi tenang, sama sekali ga ada niatan buat kabur kok. H3h3.

Yha. Intinya semoga kali ini beneran bisa berkontribusi dengan sungguh-sungguh. Bismillah! Semangat, Gradasi!!

BEM Fakultas Industri Kreatif Telkom University

Saturday, August 30, 2014

Beberapa bulan ini aku mulai ngerasa ada yg berubah. Sangkin seringnya aku sama temen-temenku, aku jadi terbiasa untuk melakukan semuanya bareng-bareng. Yang akhirnya bikin aku tiba-tiba jadi ga bisa lepas dari orang lain. Terlalu tergantung sama orang lain. Kalo temenku ga bisa, aku jadi ga bisa kesana. Kalo temenku bisa, aku jadi bisa.

Sampai akhinya aku nyadar kalo aku engga nyaman dengan 'kenyamanan' yg baru ini.

Jadi berhubung kemarin ada satu event yg emang pengen banget aku datangin, aku mutusin buat pergi sendirian. Aku lupa kapan terakhir kali aku se-excited itu melakukan sesuatu (bahkan pas menuju pagar kosan aku jalan sambil loncat kegirangan -_-)

Tapi pas baru keluar beberapa langkah dari kosan, seakan niat buat pergi sendirian-ku lagi dites... tiba-tiba hujan deras. Hiks. Mau balik ke kosan, tapi rasanya kaya 'dih segini doang masa uda kalah sih?' Ya, kemudian langsung lanjut naik angkot. Di tempat pemberhentian pertama, ternyata engga hujan sama sekali! Senang bukan main. Alhamdulillah. :'

Bermodalkan google maps, aku nyari tempat tujuan yg tidak lain adalah Itenas. Kemarin Itenas lagi ngadain acara pameran desain interior, Diadikasia. Aku suka pemilihan nama Diadikasia itu sendiri, diambil dari bahasa yunani yg artinya 'proses'.

Pas nyampe di Itenas, sangkin terbiasanya aku jalan sama temen-temen... tau ga apa pikiran yg tiba-tiba terlintas? Aku mau pulang aja. Aku ga mau sendirian. Asli, itu hal yg paling menyebalkan yg pernah aku pikirin. Dan seperti kejadian yg tiba-tiba hujan deras waktu mau pergi tadi, aku mikir lagi 'dih segini doang?'

Daripada ngalahin orang lain, aku lebih sangat puas kalo bisa ngalahin ketakutan diri sendiri. Jadi ketebak lha, kalo akhirnya aku tetap milih buat berada disitu dan mulai masuk ke area pamerannya.

Karya-karya anak Itenas ga perlu ditanyain lagi, bagus-bagus. Dari nirmana, menggambar dasar, konstruktif, maket, bahkan mebelnya... bagus sekali. Tapi yg paling menyenangkan disini adalah panitianya. Aku ingat pas masih jadi panitia di nihon, kak dimas bilang "Engga ada panitia yg nikmatin acara. Kalo mau nikmatin, ga usah jadi panitia."

Mereka tau benar bagaimana menjadi panitia. Mungkin yg aku liat cuma beberapa aja, tapi aku cukup salut sama panitianya. Mereka memandu pengunjung dan menjelaskan dengan sabar tentang karya dari awal pintu masuk sampe akhir.

Karna aku ga mungkin puas cuma sebentar kalo ngeliat sesuatu, tapi ga enak juga bikin panitianya lama nungguin aku, ya terakhirnya aku minta udahan aja. Jadi dia bisa ngemandu pengunjung yg lain dan aku bisa kembali muter-muter area pameran lagi. Sampe di satu area, disitu aku cuma sendirian lagi merhatiin karya. Tiba-tiba ada satu panitia datang nyamperin nanya "Ada yg perlu dijelasin?" ... wow. Sekali lagi salut sama panitianya, peduli sekali sama pengunjungnya. Kubahagia. :'

Ini beberapa foto yg aku ambil disana.





Thursday, April 17, 2014

Ada saatnya memang kita ingin diperhatikan oleh orang lain.
Ada saatnya memang kita ingin menjadi alasan dari kebahagiaan orang-orang yang ada di dekat kita.
Ada saatnya memang kita ingin jadi bagian dari cerita orang lain, bukan hanya sekedar mendengarkan ceritanya saja.

Semua memang selalu ada saatnya.

Dan jika memang kali ini bukan saatnya,

Haruskah kita berpikir bahwa semua orang tidak pernah benar-benar peduli dengan kita?
Haruskah kita berpikir bahwa semestinya alasan semua orang jadi bahagia itu adalah karna kita?
Haruskah kita berpikir bahwa sepatutnya yg menjadi peran utama di setiap cerita kehidupan orang lain itu adalah kita?

Tidak.

Kita bukan anak kecil lagi. Dan ini bukan kali pertama kau seperti ini, kan?

... Tolong jangan membuatku jadi benar-benar lelah untuk menghadapimu lagi.

Thursday, January 23, 2014


Just read this and suddenly make me remember something. The moment that I feel so tired and I think that look up to the sky is better than tell my friends about my problem.
And it was the sky...


Maybe this isn't the best sky that I've ever seen, but this is absolutely my favourite sky ever. 
Cause when I feel like a loser, it seems that Allah tell me:
 "Don't be sad, look at this."
 :')

Monday, January 6, 2014


.... Aku ingat akan sesuatu.
Sesuatu yang pernah atau bahkan sampai beberapa hari yang lalu masih aku lakukan.

Kalau melihat ada yang mengejek atau menertawakan orang lain, bagiku itu rasanya sangat menyebalkan.

Tapi situasinya berbeda, ketika aku menjadi orang yang menertawakan orang lain itu. Jika dipikir-pikir, ironis sekali sifatku ini. Tidak suka melihat orang menertawakan yang lain, tetapi membiarkan diri sendiri begitu saja ketika menertawakan orang lain. Entah apakah ini tergantung dengan siapa aku berteman atau bagaimana.

Untuk sesaat tadi aku baru sadar ini bukan salah lingkunganku. Kalau aku mau memutuskan untuk tidak ikut tertawa, aku pasti bisa. Dan itu artinya selama ini paling tidak aku juga sedikit menikmati menertawakan orang lain.

Dulu pas SMP ada satu orang yang selalu jadi bahan tertawaan. Walaupun bukan aku yang menghina, tetapi tetap saja aku tidak berbeda dengan orang yang menghinanya kalau aku tertawa, bukan?

Pas SMA pikiranku mulai terbuka, dan sekali lagi aku bertemu dengan orang yang selalu jadi bahan tertawaan. Saat itu aku mulai berani mengambil tindakan, memang sih belum sampai tahap memukuli orang yang menghinanya, hanya sekedar tidak tertawa dan menemaninya saat dia butuh orang untuk menangis, tetapi setidaknya aku mulai mencoba. Mungkin masa-masa di mana aku paling memegang kendali penuh atas pikiranku adalah ketika SMA.

Sekarang, anehnya pas kuliah aku seperti menjadi pergabungan antara sifatku ketika SMP dan SMA. Ada yang aku tertawakan, tapi ada juga yang tidak aku tertawakan. Ini menyebalkan... bagaimana mungkin aku berani sok memilih orang mana yang pantas ditertawakan dan mana yang tidak?

Begitu melihat kata-kata tadi........ Jika tidak bisa langsung.... Perlahan tapi pasti.... Berubahlah, Dil.
Bayangkan bagaimana bila kau berada di posisi mereka, apa kau suka?
Perbaikilah... selagi masih sempat.

Thursday, November 14, 2013

"Jangan ngerasa kalian itu ada batasan buat ngedesain, teknologi sekarang uda canggih."
Berbekal sebuah kalimat dari kaprodi, aku pun semangat ngedesain apartment (tugas mata kuliah merencana 1). Berhubung lahan apartmentnya terbatas, dan mau menyesuaikan dengan tema "Cozy in Curve" , maka akhirnya aku milih buat mengolah ketinggian lantainya.

Pertama dan kedua kalinya melakukan proses asistensi denah, dosenku sempat nanya ini gimana dan gimana, setelah aku jelasin (ya walaupun agak ribet, karna entah kenapa setiap berhadapan sama dosen yg satu ini seakan frekuensi kami ga pernah sama.), mungkin ibu itu kurang puas dan kurang ngerti, tapi respon dia (menurutku) selama ini engga bikin aku harus ngulang dari awal.

Sampai tadi pagi, setelah ngerjain denah yg untuk kesekian kalinya baru lagi (tetap dengan konsep mengolah ketinggian lantai) , aku mencoba asistensi lagi. Ternyata menurutnya elevasi lantai yang aku terapkan di desainku itu terlalu ekstrim, dan kalo mau disesuaikan dengan tema, harusnya yang aku olah itu bukan cuma lantai, tapi bentuk ruangnya juga.

Iya, aku sangat bisa menerima masukannya yg harusnya bentuk ruang diolah juga. Tapi.... kenapa baru bilang sekarang, Bu? Apalagi dengan cuma 4 kali pertemuan lagi... terus Ibu sambil nanya "Emang kamu yakin bisa selesaiin? Uda ngulang aja tahun depan." *nangis kesel*

Iya, mahasiswa emang ga boleh nunggu disuap. Tapi... setiap orang sampe dia tua pun, butuh dikoreksi, Bu. Dan mengingat ini beneran kali pertama belajar tentang interior, saya juga engga bakal nyadar kalo ibu engga komentarin dari awal, Bu. Bukannya itu salah satu tugas pengajar, Bu?

Disaat Ibu ngomong "Ini entar keramiknya gimana masangnya? Kamu pikir itu gampang? Lantai itu ga bisa diginiin!" Saya pengeeeeenn banget bilang kata-kata dari kaprodi tadi. Tapi mengamati Ibu yg sedang (dan sepertinya selalu) badmood, entar makin ribet pula.

Ah.

Oke, minggu ini bakal asistensi denah yg benar-benar baru. Semoga di acc. Amiiinn!!


Ngomong-ngomong tadi pas asistensi, denah temanku ada yg wc nya nempel ke dinding, dan taukah kalian apa yg dibilang ibu ini ke temanku?

"WC nya kok nempel begitu, nanti kalo ada orang yg kaya fadhila ga bakal bisa make dong."

.... orang kaya fadhila?

Okesip, Bu.

Sunday, November 3, 2013

Nama lain dari tipe orang yg bakal dibilang lebay karna terlalu protektif jaga barang kesayangannya adalah Fadhila Anthony. Ya. Aku.

Dari sekian banyak sifatku yg aneh, salah satunya yg paling bikin orang naikin alis sambil bilang "Serius lo?" ya ini, punya barang kesayangan. Sebenarnya ada banyak sih, cuma peringkat 3 teratas itu adalah Merah, Baron, dan Toby. Merah, handphone nokia. Baron, handphone blackberry. Toby, laptop toshiba.

Bertahun-tahun aku jagain, walaupun banyak keluar model baru aku ga mau ganti. Kenapa? Karna ada sesuatu yg ga bisa dibeli dengan uang, yaitu kenangan. Mungkin karna itu juga aku sayang sekali sama mereka. Kalo ada yg sembarangan nekan, mainin, atau bahkan megang mereka tanpa seizinku rasanya pengen kujitak pake telenan. (Seriously, I'm not kidding.)

... Tapi sekarang salah satu dari mereka tiba-tiba hilang.

Semalam shidqi ngajakin buat beli rok ke gasibu, lapangan besar di depan gedung sate yg setiap minggu pagi itu dipenuhi dengan orang-orang yg berjualan. Sebenarnya uda ngerencanain ini dari minggu-minggu kemarin sih, tapi karna sibuk uts dan males bangun juga, rencananya batal terus.
Singkat cerita, sekitar jam 8 pagi kami uda nyampe gedung sate. Seperti biasa, keramaian dimana-mana. Setelah keliling sebentar, aku ngeliat baron buat ngecek jam, ternyata baru jam 8.45. Habis itu kami masuk ke area gasibu. 

Langkah pertama masuk di keramaian gasibu, firasatku ga enak. Itu pertama kalinya (walaupun pernah diingatin sama mami) aku berdoa supaya ga terjadi apa-apa di pasar. Seingatku ga lebih dari 5 menit aku sama shidqi jalan, dan disitu jalannya emang desak-desakan. Pas keluar dari desak-desakan rasanya ada yg aneh... Kok tasku kebuka ya? 

Ngecek dan ngecek... duar. Baron engga ada.
Pernah ga sih ngerasain tiba-tiba hati langsung nyess dan tiba-tiba kosong? 
Itu yg tadi aku rasain.

Shidqi masih ga percaya kalo baron hilang, dan aku cuma (dari luar) keliatannya santai aja. 
Seolah ga ada apa-apa.

Ngabarin papa kalo baron hilang dan beberapa saat papa bilang baron masih nyambung, berarti ada kemungkinan itu kececer. Tapi sayangnya, ketika papa bilang gitu aku sama shidqi uda engga berada di gasibu lagi. Pas aku nyoba buat nelpon lagi, ternyata uda ga nyambung. Nyesek? iya. Nangis? dalam hati.

Shidqi minta maaf, dan jujur aku ga begitu suka nyalahin keadaan atau orang lain kalo sesuatu itu uda terjadi. Jadi walaupun nyesek dan sebagainya, aku ga suka makin memperburuk keadaan. Tapi si bolot shidqi ini masih aja minta maaf dan nawarin buat make handphonenya dulu. Ergh. -_-

...

Engga tau mau ngetik apalagi.

Kangen baron. Cepat kembali.

Tuesday, December 20, 2011

Welcome Back

Assalamualaikum.

Ini blog pertama tapi bukan post pertama yg aku bikin.
Entah kesambet apa dulu pada ngapusin semua postingannya.
Padahal .... lumayan enak dijadiin kenangan itu kan. *getok pala sendiri*

Kepikiran buat ngepost lagi dikarenakan...... ga tau. Ga jelas.
Aku aja bingung kenapa sekarang lagi ngetik beginian. -_-
Thanks to google yang membuatku teringat akan blog ini.

*liat jam*

Sudah nyaris jam empat pagi dan aku masih pake baju sekolah.

Gapapa deh, hemat baju sama dengan hemat air buat nyuci, hemat air buat nyuci sama dengan hemat sumber daya alam, hemat sumber daya alam berarti bagus buat bumi.
Secara engga langsung aku membantu bumi. Baiknya. :')

Ah, ya.

Baru ingat kenapa dulu pada ngapusin postnya.
Karna... gondok ga bisa ngedit blog. -_-
Kalo diingat alasanku kenapa bolot gitu ya bzz itupun keingatnya karna nyaris keulang lagi, barusan mau ngedit blog dan ternyata (masih) ga ngerti.

Tao ah gelap.
Yang penting ngepost.
Mau gimana tampilannya ga peduli!! HUWOH!!!

................ peduli sih -__- *makan keyboard*

Dan mungkin setelah ini aku bakal rajin ngepost lagi (semoga ga kesambet buat ngapusin lagi deh).

Huwoh.

Welcome back, Taradiland! *peluk*